Connect with us

Kota Banjarbaru

Video. Berbagi Semangat Hadapi Wabah COVID-19

Diterbitkan

pada

Grafis Kalsel Lawan Corona!
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Jumlah orang dalam pengawasan (ODP) di Kalimantan Selatan mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Data terbaru pukul 10:00 WITA, jumlah ODP se Kalsel berjumlah 362 orang.

“Per jam 10:00 Wita, sudah ada 362 orang masuk dalam ODP,” Juru Bicara Tim Gugus Tugas P3 COVID-19 Kalsel M Muslim kepada awak media, di Kantor Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, Minggu (22/3/2020) sore.

Hari ini redaksi kanalkalimantan.com menerima kiriman video berbagi semangat dari warga Banua, bahkan ada satu video dari kawan kami warga Singapura. Dalam video ini kita diajak untuk tetap optimis, tidak panik dan ikuti imbauan pemerintah dalam hadapi wabah corona atau COVID-19 ini. (kanalkalimantan.com/andy)

 

https://youtu.be/jcl93AHEc_w

 

Editor : Andy

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Kota Banjarbaru

Gandeng Prodia Buka Layanan PCR Mandiri Covid-19, RS Idaman Kedepankan Aspek Sosial

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

RSI Banjarbaru membuka layanan PCR mandiri Covid-19 bekerjasama dengan Prodia. Foto : rico
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– RS Daerah Idaman Kota Banjarbaru (RSDI) bekerjasama dengan Prodia menyelenggarakan layanan pemeriksaan mandiri dignostik Covid-19 dengan menggunakan metoda PCR (Polymyrase Chain Reaction) dengan teknik pengambilan swab.

Kerjasama ini adalah bentuk diversifikasi layanan pemeriksaan diagnostik berbasis kerjasama yang telah lama diselenggarakan bersama antara RSDI dengan laboratorium klinik Prodia. Hal ini adalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin melakukan tes mandiri Covid-19 demi berbagai keperluan, baik pribadi maupun korporasi.

Menyikapi kabar yang beredar di masyarakat bahwa pemeriksaan dignostik ini menjadi lahan baru rumah sakit dalam berbisnis, hal ini disanggah oleh Kepala Bagian Tata Usaha RSDI Banjarbaru Firmansyah. “RSDI merupakan badan layanan Umum Daerah yang diberikan keleluasaan secara terbatas untuk mengembangkan bisnis layanan dengan tetap mengedepankan aspek sosial,” tegasnya.

Ia mengatakan, jenis layanan pemeriksaan mandiri tidak berbeda dengan layanan General Check Up yang telah lama dikembangkan oleh RSDI melalui Poloklinik Eksekutifnya. Hal ini diadakan untuk mempermudah masyarakat yang secara kesadarannya sendiri ingin memeriksakan diri. Meskipun dia dalam keadaan sehat dan apapun tujuan pemeriksaan tersebut.

“Ini tentunya akan mempermudah dalam artian dia tidak harus keluar daerah hanya untuk pengambilan swab, dan tidak perlu repot mengirimkan sampel swab dalam VTM, hingga pada akhirnya tinggal menerima surat keterangan telah diperiksa dengan hasil yang objektif,” ungkap Firmansyah.

Terkait tarif yang diberlakukan sebagaimana daftar yang beredar, ia mengatakan merupakan hasil dari penilaian terendah berbasis unit cost. Artinya, tetap mengedepankan aspek pelayanan namun tidak mengambil keuntungan, sedangkan tariff pemeriksaan PCR dari Prodia merupakan fixed cost dari mereka. “Kami tidak bisa mencampuri hal tersebut,” tegasnya.

Sementara Kepala Seksi Pelayanan Medik dr Hj Siti Ningsih mengatakan, teknis pelaksanaan pemeriksaan mandiri diagnostic PCR ini tidak sembarangan. Tidak serta merta setiap orang yang memiliki kebutuhan maupun kemampuan finansial akan bisa mengajukan diri untuk diperiksa, hal ini dilakukan mengingat kapasitas dan kapabilitas petugas pengambil swab serta kemampuan PCR dari Prodia yang terbatas. “Sehingga dalam seminggu kami batasi 2 (dua) hari pengambilan sample dengan maksimal 2 (dua) sampel periksa,” terangnya.

Ia menambahkan, kerjasama pemeriksaan diagnostik yang selama ini tidak bias dilakukan di RSDI, seringkali harus dilaksanakan di laboratorium luar. Baik milik pemerintah semisal laboratorium RSUD Ulin, laboratorium BTKL atau Balai Laboratorium Kesehatan Daerah, atau milik swasta di antaranya Prodia.

Pun disampaikan Kepala Bidang Pelayanan dr Hj Ani Rusmila yang mengatakan jika ada yang bertanya kenapa tidak diusahakan memeriksakan sendiri dan membeli alat diagnostiknya, maka jawabannya adalah kembali kepada rasio kebutuhan. Jenis pemeriksaan tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh RSDI masih jarang tergantung kasus. “Sehingga tidak sebanding antara besarnya biaya pengadaan sarana prasarana dengan kebutuhan. Oleh karena itu, kerjasama dengan laboratorium luar adalah pilihan paling masuk akal,” katanya.

Terakhir, Direktur RSDI Dr dr Hj Endah Labati Silapurna, MH.Kes mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab untuk pasien yang masuk RSDI dengan status ODP dan PDP, pemeriksaan diagnostic semuanya ditanggung oleh pemerintah.

“Jadi tidak benar jika tarif pemeriksaan ini juga diberlakukan untuk pasien yang memang benar-benar harus diobati, RSDI sebagai rumah sakit pemerintah Kota Banjarbaru meskipun dengan Klasifikasi C, akan tetap berusaha memberikan yang terbaik, dan akan selalu terbuka terhadap kritik saran dari masyarakat,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Chell

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kota Banjarbaru

PDP Kabur dari RS Idaman Banjarbaru Belum Ditemukan, Istri dan Dua Anaknya Dinyatakan Reaktif

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kepala BPBD Banjarbaru, Zaini Syahrani saat memberikan keterangan. Foto : Rico
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Hampir sepekan pasca kaburnya seorang warga  berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dari Rumah Sakit Idaman Banjarbaru. Sampai saat ini , upaya pencarian yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Banjarbaru, belum membuahkan hasil.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Zaini Syahrani, kepada Kanalkalimantan.com, Jumat (29/5/2020).

“Untuk sementara belum ditemukan. Seluruh aparat masih melakukan pencarian,” ungkapnya.

Meski pasien kabur tersebut belum ditemukan, kata Zaini, akan tetapi pihak keluarga selalu bersikap kooperatif. Bahkan, pihak keluarga juga turut menjalani pemeriksaan rapid test sebagai langkah upaya penanganan Covid-19.

Hasil pemeriksaan dari 4 orang keluarga pasien yang kabur tersebut, 3 orang diantaranya dinyatakan reaktif. Namun ditegaskan Zaini bahwa pemeriksaan ini belum memastikan apakah ke tiga terpapar Covid-19 atau tidak.

“Untuk memastikan lagi, kita tunggu hasil pemeriksaan swab. Tiga orang ini ialah istri dan dua anak dari pasien yang kabur itu,” jelasnya.

Sementara menunggu keluarnya hasil swab, ketiga keluarga pasien yang kabur tersebut saat ini menjalani isolasi di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) milik Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru.

Seperti yang sudah diberitakan, pasien yang merupakan warga Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, itu kabur dari ruang isolasi Rumah Sakit Idaman, pada 23 Mei 2020. Kala itu, pasien dengan sengaja melepaskan jarum infus di tangan dan kabur melalui tangga darurat.

Pengejaran pasien terbilang tak mudah mengingat, sang anak pasien juga membantu aksi melarikan diri ini hingga ke tempat tinggal mereka. Alih-alih niat untuk kembali, petugas kepolisian yang mendatangi rumah pasien tersebut, justru diancam akan dilempar batu. Petugas yang saat itu menjaga jarak, kembali dibuat tercengang, lantaran aksi nekat pasien yang kabur lagi ke semak-semak kawasan hutan. (kanalkalimantan.com/rico)


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kota Banjarbaru

PSBB di Banjarbaru Berakhir, Tujuh Kasus Covid-19 Muncul

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

jelang berakhir PSBB di Banjarbaru kasus positif Covid-19 masih terjadi. Foto: gugus tugas
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Dua hari sebelum berakhirnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Banjarbaru, angka sebaran kasus Covid-19 mengalami kenaikan. Hal itu sebagaimana data laporan yang dilampirkan, pada Kamis (28/5/2020) kemarin.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Banjarbaru, mencatat ada 7 kasus baru Covid-19 yang baru saja ditemukan. Sehingga total kasus Covid-19 di Banjarbadu saat ini telah menyentuh angka 43 kasus.

“Terjadi penambahan jumlah kasus dalam dua hari terakhir. Total 43 kasus, yang mana 22 orang di antara masih menjalani perawatan. Lalu, 21 orang dinyatakan sembuh,” kata juri bicara Gugus Tugas, Rizana Mirza.

Hal ini tentunya, menimbulkan pertanyaan. Mengapa masih terjadi lonjakan kasus di Banjarbaru, padahal PSBB telah diterapkan?

Faktanya, lonjakan kasus ini memang telah lama di prediksi oleh tim Gugus Tugas P3 Covid-19 Kalsel. Dalam hal ini lonjakan kasus di sejumlah daerah di Kalsel akan terjadi setelah berakhirnya Lebaran.

Wakil Ketua Gugus Tugas P3 Covid-19 Kalsel, Hanif Faisol Nurrofiq, mengatakan bahwa sejak memasuk awal Mei, fasilitas pemeriksaan berupa alat rapid test telah habis tak tersisa. Selain itu, kemampuan alat pemeriksaan swab (PCR) juga tidak cukup menampung sample dari masyarakat.

“Angka kasus Covid-19 di Kalsel belum mengalami peningkatan karena kemampuan testing kita belum mampu mengejar. Alat rapid test kita sudah kosong. Harus antri dulu dengan daerah-daerah lain yang juga memesan alat tersebut,” akunya, pada 11 Mei 2020.

Hanif -sapaan akrabnya- meyakini jika alat rapid test telah datang dan pemeriksaan swab telah selesai, maka akan terjadi ledakan jumlah kasus covid-19 yang signifikan. Ia memperkirakan hal itu akan terjadi pada hari-hari menjelang akhir puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

“Kami yakin akan terjadi lonjakan kasus yang signifikan menjelang akhir puasa. Untuk itu masyarakat jangan merasa aman, lalu keluar, berkumpul. Tetap ikuti imbaun pemerintah untuk tetap di rumah,” ujar Hanif. (Kanalkalimantan.com/rico)


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->