Connect with us

NASIONAL

Yusuf Mansur: Jenazah Arifin Ilham Diterbangkan ke Indonesia Besok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Almarhum Dimakamkan di Bogor


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Jenazah ustadz Arifin Ilham akan dimakamkan di Bogor Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA, Ustadz Arifin Ilham meninggal dunia. Jenazah ustadz Arifin Ilham akan diterbangkan ke Indonesia besok. Kabar tersebut disampaikan Ustaz Yusuf Mansur lewat Instagramnya, @yusufmansurnew, Rabu (22/5). Yusuf Mansur mengunggah tangkapan layar anak Ustaz Arifin Ilham, Alvin Faiz.

“Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un. Saya barusan konfirmasi lbh lanjut ke Adik beliau. Mhn doanya. Husnul Khatimah. Yakin. Aamiin,” tulis Yusuf Mansur. “Besok diterbangkan insyaAllah ke Indonesia,” tambah dia.

Ustadz Arifin Ilham meninggal dunia di usia 49. Ustaz Arifin Ilham sebelumnya dirawat diPenang Malaysia. Kabar meninggalnya pengasuh Ponpes Az Zikra tersebut disampaikan putranya Alvin Faiz, lewat akun Instagram-nya. Dia mengatakan ayahnya akan dimakamkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. “Innalillahiwainnailaihirojiun Telah wafat Abi kami tercinta Abi @kh_m_arifin_ilham,” tulisnya.

Alvin mendoakan agar sang ayah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dia mengatakan, keluarga sudah ikhlas dengan kepergian pimpinan Pondok Pesantren Az-Zikra, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.

“Semoga Allah terima amal ibadahnya, diampuni semua dosanya, dimasukkan ke surganya Allah SWT, amin,” tulis Alvin.

“InsyaAllah secepatnya Abi dipulangkan dari Malaysia dan dimakamkan di Pesantren Azzikra Gunung Sindur Bogor. Sekiranya jika ada salah kata atau perbuatan dari Abi, mohon dibuka permintaan maaf sebesar-besarnya. Ya Allah, jika ini yang terbaik, kami ikhlas ya Allah, kami ridho ya Allah😭,” sambungnya.(dtc)

Reporter:DTC
Editor:Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

NASIONAL

Gubernur Erzaldi: RKAB Tiga Smelter Tidak Cacat Hukum

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Waket Komisi III DPR Nilai Keliru


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pangeran Khairul Saleh Foto: Dokumentasi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Gubernur Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman menegaskan Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) tiga smelter timah di Bangka Belitung tidak ada yang menyalahi peraturan. RKAB yang dijalankan saat ini adalah RKAB yang sudah ada dan didata sejak 2018.

Namun masih ada sisa produksi yang belum di ekspor. Tiga perusahaan yang dimaksud adalah PT Bukit Timah, PT Prima Timah Utama dan PT Biliton Inti Perkasa.

“RAKB ini untuk menjual stok barang yang sudah didata 2018. Jadi berdasarkan RKAB 2018 ini, tidak pakai CPI. Ini sudah sesuai peraturan dan tidak cacat hukum,” kata Gubernur kepada wartawan, Minggu (12/7/2020).

Langkah yang ditempuh saat ini, lanjut dia, sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk melakukan tindakan ekstra ordinary dalam mengatasi perekonomian yang terus memburuk akibat covid-19. Agar perekonomian di Bangka Belitung cepat tumbuh.

 

Selain itu pemulihan perekonomian masyarakat bisa segera membaik. Pemerintah provinsi berkoordinasi dengan kementerian ESDM melakukan kelonggaran dengan menjual stok RKAB 2018 ini.

“Pak Presiden sudah menyatakan kita butuh extra ordinary. Pak Presiden sampai marah, kalau perlu saya tandatangani bila bertujuan untuk kebangkitan ekonomi, kata Presiden. Jadi, dasar RKAB karena kondisi perekonomian sekarang. Masak ada barang yang bisa dijual, masa kita tidak izinkan. Bila stok barang terjual, pemerintah akan dapat royalti, juga pemasukan pajak,” kata Gubernur.

Dengan mengeluarkan stok lama, itu akan mendorong perekonomian di Bangka Belitung. Dengan demikian, apabila ada uang yang bergerak, masyarakat bisa membayar hutang.

Pendapatan dari hasil penjualan akan menggerakkan perekonomian.

“Apa yang kami perbuat saat ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Dengan relaksasi yang disarankan Presiden Jokowi, lapangan kerja kembali terbuka, aktivitas perekonomian masyarakat akan berjalan lagi, pertumbuhan ekonomi bisa naik. Susah lho recovery di masa pandemi ini,” katanya.

Untuk itu, dalam waktu dekat Gubernur melakukan ekspor sesuai dengan RKAB yang sudah jalan saat ini.

“Minggu depan ekspor akan mulai jalan,” kata mantan Bupati Bangka Tengah ini.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi III DPR Pangeran Khairul Saleh meluruskan pernyataan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman bahwa Rencana Kerja Anggaran Biaya (RAKB) 3 smelter timah di Babel tidak menyalahi peraturan. Tiga perusahaan yang dimaksud adalah PT Bukit Timah, PT Prima Timah Utama dan PT Biliton Inti Perkasa.

“RAKB ini untuk menjual stok barang yang sudah di data 2018. Jadi berdasar RKAB 2018 ini, tidak pakai CPI. Ini sudah sesuai peraturan dan tidak cacat hukum,” ujar dia.

Khairul Saleh menilai pernyataan Gubernur Babel tersebut keliru. Jelas-jelas katanya melanggar Keputusan Menteri ESDM Nomor 1806 K/30/MEN/2018 tentang Pedoman Pelaksaan Penyusunan Evaluasi Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya serta Laporan pada Kegiatan Usaha Pertambangan dan Mineral Republik Indonesia.

Seharusnya lanjut dia bahwa untuk mendapatkan RKAB adalah perusahaan yang sudah melakukan kegiatan eksplorasi, membuat laporan studi kelayakan serta sudah memiliki dokumen lingkungan. Sementara ketiga perusahaan tersebut sebelumya pada 2018 diduga tidak lolos mendapatkan izin RAKB karena berbagai permasalahan. Sebab itu, Khairul Saleh menilai proses mendapatkan RKAB tersebut tidak sesuai dengan mekanisme dan aturan yang berlaku. (suara.com)

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

NASIONAL

Hemat Anggaran, Jokowi Segera Bubarkan 18 Lembaga Negara

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Presiden Jokowi akan membubarkan 18 lembaga Foto: suara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA– Presiden Joko Widodo memastikan akan membubarkan 18 lembaga dalam waktu dekat. Hal tersebut akan dilakukan sebagai upaya perampingan organisasi pemerintah.

“Dalam waktu dekat ini ada 18,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/7).

Menurut Jokowi, pembubaran 18 lembaga tersebut agar pemerintah dapat bergerak lebih cepat. Ia menekankan, hanya negara yang dapat bergerak cepat yang mampu menjadi pemenang dalam kompetisi global saat ini. “Negara cepat bisa mengalahkan negara yang lambat. Bukan negara gede mengalahkan negara yang kecil. Enggak, kita yakini,” ujarnya.

Pembubaran 18 lembaga ini dilakukan untuk menghemat biaya. Anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi 18 lembaga negara itu dapat dikembalikan ke kementerian/lembaga lain supaya bekerja lebih baik lagi ke depannya. “Kalau bisa dikembalikan ke menteri atau kementerian, ke dirjen, ke direktorat, direktur, kenapa harus dipakai ke badan-badan itu lagi, ke komisi-komisi itu lagi,” katanya.

Ancaman Jokowi untuk membubarkan sejumlah lembaga negara muncul dari Jokowi saat sidang kabinet paripurna pada 18 Juni 2020 lalu. Selain pembubaran lembaga, dia mengancam akan melakukan perombakan kabinet.

Jokowi menilai kinerja pemerintah dalam menangani pandemi virus corona belum signifikan. Para menteri pun dinilai masih menganggap kondisi saat ini masih normal sehingga bekerja standar. “Jadi tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, suasananya harus suasana krisis. Jangan kebijakan biasa-biasa saja, anggap ini normal. Apa-apaan ini,” katanya dengan nada tinggi.

Sebelumnya, hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan sebanyak 87,8% responden tidak puas terhadap kinerja menteri dalam menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Ketidakpuasan atas penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat terdampak menjadi yang paling tinggi, yakni 75,1%. Adapun detail hasil jajak pendapat dapat dilihat dalam databoks di bawah ini. (Kanalkalimantan.com/suara)

Reporter : Suara
Editor : Cell



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

NASIONAL

Aplikasi Suara Aisyiyah: Kiprah 94 Tahun Mewartakan Gerakan Perempuan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Cover majalah Suara Aisyiyah era 2000-an dan terbaru. (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JOGJAKARTA – Tahun ini majalah Suara Aisyiyah berusia 94 tahun jika dihitung dalam kalender Masehi, atau 97 tahun menurut kalender Islam. Dituntut oleh kemajuan jaman, majalah ini meluncurkan aplikasi pemberitaan yang dapat diunduh melalui telepon genggam.

Upaya ini menjadi bagian dari cara bertahan di tengah rontoknya media cetak dan cita-cita terus mendampingi perempuan Muhammadiyah dalam berkiprah.

Dalam diskusi webinar, pemimpin Redaksi Suara Aisyiyah, Adib Sofia menyebut, kiprah majalah ini sejak 1926 itu adalah bentuk jihad literasi, khususnya bagi perempuan.

“Sejak jaman dulu, jihad literasi menjadi spirit utama bagi eksistensi Suara Aisyiyah. Jihad literasi sebagai gerakan perjuangan Aisyiyah agar masyarakat dapat membaca dan memahami pengetahuan dan ilmu dengan benar,” ujarnya.

Dr Adib Sofia, Pemimpin Redaksi Suara Aisyiah. (Foto: Dr Adib Sofia/pribadi)

Buta Huruf Hingga Post Truth

Suara Aisyiyah adalah majalah yang diterbitkan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Edisi cetak tertua yang tersimpan sampai saat ini adalah terbitan Bulan Rajab 1345 atau 19 Januari 1927. Pada edisi itu, disebutkan bahwa Suara Aisyiyah telah terbit sejak 1926.

Hampir seratus tahun menemani perempuan dengan segala isunya, Suara Aisyiyah selalu membawa isu besar yang berbeda dalam dekade yang dilewati. Adib Sofia mencatat, pada edisi-edisi awal hingga era 1940-an, majalah ini banyak mengangkat upaya pemberantasan buta aksara. Aisyiyah memberikan perhatian besar pada isu kemampuan perempuan agar bisa menulis dan membaca.

Dekade selanjutnya, hingga era 1950-an, Suara Aisyiyah memuat banyak isu terkait upaya melek diri. Majalah ini mendorong perempuan agar mengenal jati dirinya, berupaya keras memberantas kebodohan, menyebarkan pengetahuan sekaligus mendorong pemahaman akan kesetaraan dengan laki-laki.

Cover majalah Suara Aisyiyah pada 1932. (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah)

Pada dekade 1960-an, Suara Aisyiyah mengajak perempuan melek masalah. Gerakan yang diprioritaskan adalah ajakan pada perempuan agar peduli terhadap masalah yang ada di sekitarnya. Suara Aisyiyah mendorong perempuan keluar rumah dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang terjadi.

“Akhir-akhir ini merupakan melek jaman, artinya sudah berganti menjadi pertarungan pemikiran, perdebatan. Kita masuk pada hiperrealitas, persoalan post truth, manusia lebih percaya apa yang diyakini bukan fakta yang ada. Suara Aisyiyah harus ikuti perkembangan zaman itu. Dunia sudah berubah, maka kita harus berubah,” tutur Adib.

Untuk menjawab tantangan zaman, Suara Aisyiyah telah merambah daring. Mulai Sabtu (11/7), upaya itu diperluas dengan penyediaan aplikasi melalui Playstore. Adib Sofia menyebut, langkah ini ditempuh untuk menjawab aspirasi pembaca yang ingin memperoleh bacaan lebih cepat dan mudah. Dengan pertimbangan sebagian pembaca perempuan yang tetap lebih nyaman dengan edisi cetak, maka penerbitan bulanan tetap dilakukan.

Mewarnai Dakwah Digital

Meski terlambat, ekspansi Suara Aisyiyah dalam format digital ini diapresiasi Direktur Pemberitaan Medcom.id, Abdul Kohar. Apresiasi itu dia sampaikan dalam diskusi daring “Arah dan Tantangan Media Dakwah di Era Digital,” pada Sabtu (11/7) yang diselenggarakan penerbit majalah tersebut.

Abdul Kohar mengatakan, banyak alasan dakwah di dunia daring harus dilakukan. Meski begitu, lanjutnya, penerbitan edisi cetak majalah Suara Aisyiyah sebaiknya tetap dipertahankan. Meski pembacanya berkurang, sejauh ini, format cetak adalah penjaga kredibilitas sebuah penerbitan.

“Jadi catatan bagi produk-produk cetak, apakah dia majalah atau koran, itu kemenangannya adalah pertarungan kredibilitas. Mengapa seperti itu terjadi, karena orang-orang koran itu memang dididik, terbiasa untuk bekerja dalam spirit intelektualitas, belajar, mendalami,” kata Abdul Kohar.

Mengutip data Lembaga Survei Indonesia, Kohar menyebut pada 2014 sebanyak 60 persen publik mengakses informasi sehari-hari dari televisi, 8 persen dari media cetak dan 7 persen dari media digital. Namun, pada 2018 angka akses informasi melalui televisi turun menjadi 42 persen, media cetak turun ke 3 persen, sedangkan media digital naik 3 kali lipat menjadi 21 persen.

Data juga mencatat 79 persen milenial menonton televisi melalui internet dan 98 persen milenial serta Generasi Z mengakses internet. Angka itu menunjukkan bahwa media daring adalah sumber informasi utama bagi anak muda saat ini. Karena itu, mau tidak mau media yang ingin bertahan harus merambah ke format daring.

Dari sisi materi, masuknya Suara Aisyiyah secara agresif ke daring juga perlu untuk mengimbangi kecenderungan konten buruk internet. Masyarakat cenderung berbagi informasi keagamaan yang justru sumbernya tidak jelas. Di era post truth seperti saat ini, kata Kohar, fakta dikalahkan oleh emosi. Karena itulah, penyedia konten keagamaan seperti Suara Aisyiyah harus kreatif dan mampu mewarnai wacana daring.

Cover majalah Suara Aisyiyah tahun 1930-an, 1970-an dan 1980-an. (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah)

“Informasi sangat meluber, jadi kita tidak tahu ini formasi yang benar yang mana. Semua seolah-olah seperti benar pada waktu yang bersamaan, padahal tidak semua informasi sesuai dengan fakta. Informasi-informasi bohong itu, kalau terus dipaparkan maka secara psikologis akan dianggap sebagai kebenaran,” ujar Kohar.

Mencatat Dinamika Gerakan Perempuan

Dalam sejarah media di Indonesia, Suara Aisyiyah termasuk salah satu pelopor media bagi perempuan. Sebelumnya, telah terbit Poetri Hindia yang hadir pada 1908 dari perjuangan aktivis pers ketika itu, Tirto Adhi Soerjo.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menilai media adalah faktor penting bagi organisasi perempuan itu. Sejak awal didirikan, tokoh-tokoh perempuan di Muhammadiyah telah meyakini pentingnya sebuah media, yang menjadi wahana mereka menggelar wacana dunia perempuan.

“Melalui Suara Aisyiyah, itu akan menampakkan dinamika gerakan perempuan Indonesia yaitu Aisyiyah, yang menjadi salah satu tonggak pergerakan perempuan di Indonesia,” kata Noordjannah.

Aisyiyah menjadi salah satu inisiator Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928 di Yogyakarta. Suara Aisyiyah yang sudah masuk tahun ketiga ketika itu aktif menulis dialog-dialog serta perjuangan perempuan Indonesia di seputar kongres tersebut.

“Isu zaman itu, sampai sekarang bahkan masih berlanjut. Ini menjadi keprihatinan kita, karena artinya dakwah kita belum selesai, terkait ikhtiar untuk menguatkan perempuan, perlindungan hak-hak perempuan, anak dan keluarga,” tambah Noordjannah.

Noordjannah juga berharap, penyediaan layanan digital ini mendekatkan Suara Aisyiyah kepada generasi milenial, sehingga isu-isu gerakan perempuan juga akrab bagi mereka. (ns/em)

Reporter : Nurhadi
Editor : Eva/VOA


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->